GRIT: Mengapa Ketekunan Menjadi Kekuatan Penting untuk Membangun Keunggulan

Acara

Memahami GRIT: Lebih dari Sekadar Pantang Menyerah

Dalam psikologi, GRIT umumnya dipahami sebagai kombinasi passion dan perseverance terhadap tujuan jangka panjang. Konsep ini banyak dikembangkan melalui penelitian psikolog Angela Duckworth dan rekan-rekannya.

American Psychological Association menjelaskan GRIT sebagai kecenderungan untuk mempertahankan usaha dan ketertarikan terhadap tujuan jangka panjang, termasuk ketika seseorang menghadapi kegagalan, hambatan, maupun progres yang berjalan lambat.

Artinya, GRIT bukan sekadar bekerja keras dalam waktu singkat.

GRIT berbicara tentang stamina untuk tetap berkomitmen pada sesuatu yang bernilai dalam jangka panjang.

Namun, penting juga untuk melihat konsep ini secara lebih kritis. GRIT bukan satu satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa GRIT merupakan salah satu bagian dari kombinasi karakteristik yang berkontribusi terhadap pencapaian, bukan sebuah formula tunggal untuk sukses.

Perspektif ini membuat GRIT menjadi lebih relevan dalam konteks dunia kerja: bukan tentang memaksa diri untuk terus berjalan tanpa arah, tetapi tentang membangun kapasitas untuk tetap bergerak, belajar, beradaptasi, dan memperbaiki cara mencapai tujuan.

Mengapa GRIT Relevan dalam Dunia Kerja?

Dunia kerja memiliki karakteristik yang membuat kemampuan tersebut semakin penting.

Target dapat berubah.
Prioritas dapat bergeser.
Tantangan operasional dapat muncul tanpa peringatan.
Hasil dari sebuah inisiatif tidak selalu langsung terlihat.

Dalam situasi seperti ini, organisasi membutuhkan lebih dari sekadar individu yang memiliki kemampuan teknis.

Dibutuhkan individu yang mampu belajar dari proses, menghadapi setback, mempertahankan fokus, dan tetap mencari cara untuk menghasilkan improvement.

Di sinilah pengembangan people menjadi bagian dari strategi organisasi.

Learning and Development tidak hanya seharusnya dipandang sebagai aktivitas pelatihan, tetapi sebagai investasi untuk membangun organisasi yang mampu terus belajar dan beradaptasi. Harvard Business Review juga menyoroti bahwa learning and development memiliki peran penting dalam membangun organisasi yang lebih adaptif dan mampu menghadapi perubahan lingkungan bisnis.

Dengan kata lain, kapabilitas manusia merupakan bagian dari operational excellence.

Dari Bakat Menjadi Keterampilan

Inilah yang menjadi pembahasan dalam Public Training Sharing Is Caring yang diselenggarakan Borwita pada 12 dan 13 Agustus 2026 dengan mengangkat tema GRIT: Greatness Is Built, Not Born. Sesi yang dibawakan oleh Yuliyan Suryo, People Development Specialist, mengajak peserta memahami GRIT melalui tiga perspektif utama: mengapa GRIT penting, bagaimana GRIT terbentuk, dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan maupun pekerjaan.

Salah satu insight penting dari sesi Sharing Is Caring adalah bahwa kemampuan tidak berhenti pada bakat. Dalam materi Public Training tersebut, peserta diajak melihat hubungan:

Bakat × Usaha = Keterampilan

Kemudian:

Keterampilan × Usaha = Prestasi

Pesan ini menunjukkan bahwa potensi tidak otomatis berubah menjadi performa.

Seseorang mungkin memiliki kemampuan alami dalam suatu bidang. Namun tanpa proses belajar, latihan, evaluasi, dan konsistensi, kemampuan tersebut belum tentu berkembang menjadi kompetensi yang memberikan dampak.

Konsep ini juga sejalan dengan pendekatan deliberate practice, yaitu proses pengembangan kemampuan melalui latihan yang terarah, fokus pada aspek yang perlu diperbaiki, dan dilakukan secara konsisten. Character Lab menjelaskan bahwa proses pengembangan keahlian bukan hanya mengenai seberapa sering seseorang berlatih, tetapi bagaimana seseorang secara sengaja menargetkan aspek tertentu untuk terus ditingkatkan.

Dengan demikian, GRIT tidak seharusnya dimaknai sebagai “terus bekerja keras apa pun kondisinya.”

Lebih tepat jika GRIT dipahami sebagai kemampuan untuk mempertahankan arah, mengevaluasi proses, dan terus meningkatkan kapasitas ketika perjalanan menuju tujuan menjadi semakin kompleks.

Borwita: Membangun Kapabilitas Sejalan dengan Pertumbuhan Bisnis

Bagi Borwita, pembahasan mengenai GRIT memiliki konteks yang lebih luas daripada sebuah sesi pelatihan.

Sebagai Distributor FMCG Indonesia dengan jaringan distribusi yang luas, Borwita menjalankan bisnis yang membutuhkan konsistensi eksekusi, ketepatan operasional, customer focus, dan kemampuan beradaptasi di berbagai kondisi pasar.

Borwita saat ini memiliki jaringan distribusi yang mencakup berbagai wilayah Indonesia serta melayani segmen tradisional dan modern. Perusahaan juga terus mengembangkan operational capability melalui teknologi, produktivitas, customer service, dan efisiensi biaya.

Dalam skala seperti itu, operational excellence tidak hanya dibangun melalui sistem dan teknologi.

Ia juga dibangun oleh people yang menjalankan sistem tersebut setiap hari.

Karena itu, pengembangan kapabilitas menjadi bagian penting dalam perjalanan Borwita. Hal tersebut tercermin dalam strategi Borwita yang menempatkan Empower People sebagai salah satu elemen pertumbuhan, dengan fokus pada pembangunan kapasitas, kemampuan, akuntabilitas, dan budaya yang tepat.

Public Training Sharing Is Caring: GRIT menjadi salah satu bentuk bagaimana knowledge sharing dapat diterjemahkan menjadi ruang pembelajaran yang relevan bagi people Borwita.

Sharing Is Caring: Ketika Knowledge Menjadi Collective Capability

Ada satu hal menarik dari konsep Sharing Is Caring. Pengetahuan tidak berhenti ketika seseorang mempelajarinya.

Pengetahuan mendapatkan nilai yang lebih besar ketika dibagikan, didiskusikan, dan diterapkan dalam konteks yang nyata. Melalui sesi yang berlangsung selama dua hari, peserta tidak hanya diajak memahami definisi GRIT, tetapi juga melihat bagaimana ketekunan dapat diterapkan ketika menghadapi tantangan dan proses pengembangan diri.

Inilah yang membuat employee development memiliki dimensi strategis. Ketika pembelajaran individual berkembang menjadi shared understanding, organisasi tidak hanya meningkatkan kemampuan satu orang, tetapi perlahan membangun collective capability.

Dan bagi organisasi dengan kompleksitas operasional seperti Borwita, collective capability menjadi semakin penting.

Greatness Is Built, Not Born

Pada akhirnya, pesan utama dari sesi ini bukan tentang menjadi individu yang selalu kuat. Karena dalam perjalanan profesional, ada masa ketika energi menurun, strategi tidak berjalan sesuai rencana, dan hasil belum menunjukkan apa yang diharapkan.

GRIT justru menjadi relevan pada fase tersebut. Bukan karena seseorang tidak pernah mengalami kesulitan, tetapi karena ia memiliki kemampuan untuk tetap belajar, mengevaluasi, beradaptasi, dan mengambil langkah berikutnya.

Sebab greatness is built, not born.

Keunggulan tidak hadir dalam satu momentum. Ia dibangun melalui kemampuan yang terus diasah, usaha yang konsisten, pembelajaran yang berkelanjutan, dan keberanian untuk terus bergerak.

Bagi Borwita, perjalanan membangun organisasi yang semakin kuat juga merupakan perjalanan membangun people yang semakin capable.

Karena ketika people grow, capability grows.

Dan ketika capability tumbuh secara konsisten, organisasi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memberikan layanan terbaik, menjalankan operational excellence, serta terus expanding reach and accelerating growth di seluruh Indonesia.

Related Post