Kemerdekaan yang Dirayakan Bersama
Setiap bulan Agustus, suasana Indonesia berubah.
Bendera Merah Putih mulai menghiasi jalan dan lingkungan tempat tinggal. Gang-gang kampung dihias dengan berbagai ornamen. Anak anak berkumpul untuk mengikuti perlombaan. Warga bergotong royong menyiapkan acara. Dan pada akhirnya, ada satu hal yang hampir selalu hadir dalam perayaan 17 Agustus: kebersamaan.
Bagi masyarakat Indonesia, perayaan Hari Kemerdekaan tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa. Ia juga menjadi kesempatan untuk kembali berkumpul, berinteraksi, dan merayakan identitas sebagai bagian dari satu komunitas.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menempatkan kegiatan kebersamaan dalam perayaan kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkuat relasi sosial, sportivitas, dan semangat gotong royong.
Karena itu, tidak mengherankan jika lomba 17 Agustus menjadi salah satu tradisi yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat.
Namun, sebenarnya apa yang membuat lomba lomba sederhana tersebut begitu bertahan dari generasi ke generasi?
Dari Lomba Rakyat hingga Tradisi Kebersamaan
Tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, hingga berbagai perlombaan kreatif telah menjadi bagian dari wajah perayaan kemerdekaan di banyak daerah.
Menariknya, hampir semua permainan tersebut memiliki satu karakteristik yang sama.
Permainan tersebut mengajak orang untuk terlibat bersama.
Ada yang menjadi peserta. Ada yang menjadi panitia. Ada yang menyiapkan perlengkapan. Ada yang memberikan dukungan dari pinggir arena. Bahkan dalam lomba yang bersifat individual sekalipun, suasananya tetap dibangun melalui interaksi bersama.
Itulah mengapa lomba 17 Agustus sebenarnya lebih dari sekadar kompetisi.
Di dalamnya terdapat sportivitas, partisipasi, kreativitas, spontanitas, dan interaksi sosial.
Bahkan dalam perayaan kemerdekaan di lingkungan pemerintahan, berbagai lomba olahraga dan seni digunakan sebagai ruang untuk meningkatkan keakraban, relasi sosial, kebugaran, serta kebersamaan antarkaryawan.
Dengan kata lain, keseruan yang terlihat di permukaan memiliki nilai sosial yang lebih dalam.
Ketika Nilai Kemerdekaan Masuk ke Dunia Kerja
Lalu, apa hubungannya dengan perusahaan?
Di dalam organisasi, manusia tidak hanya bekerja berdasarkan job description.
Sebuah organisasi juga dibangun oleh bagaimana orang saling berinteraksi, berkolaborasi, berkomunikasi, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Inilah mengapa corporate culture menjadi penting.
Budaya perusahaan bukan hanya sekumpulan nilai yang tertulis di dinding atau tercantum dalam dokumen perusahaan. Budaya terbentuk melalui pengalaman sehari hari yang dirasakan oleh people di dalam organisasi.
Gallup menemukan bahwa keterhubungan karyawan dengan budaya organisasi berkaitan dengan tingkat engagement, wellbeing, retention, dan performance. Dalam data Gallup, karyawan yang merasa sangat terhubung dengan budaya organisasinya memiliki kemungkinan engagement yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak merasakan keterhubungan tersebut.
Di sinilah aktivitas sederhana seperti perayaan kemerdekaan dapat memiliki peran.
Bukan karena sebuah lomba otomatis membuat sebuah organisasi menjadi lebih produktif.
Tetapi karena ruang interaksi informal dapat membantu membangun hubungan antarmanusia yang menjadi fondasi kolaborasi dalam pekerjaan.
Dalam sebuah organisasi besar, orang yang bekerja di satu fungsi mungkin tidak selalu memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dari fungsi lain.
Sebuah perlombaan bisa menjadi ruang yang berbeda.
Tidak ada meeting room.
Tidak ada presentation deck.
Tidak ada target yang harus dibahas.
Yang ada adalah rekan kerja yang saling mendukung, tertawa, berkompetisi secara sehat, dan menciptakan pengalaman bersama.
Dan pengalaman bersama seperti inilah yang perlahan membentuk sense of belonging.
Semangat 17 Agustus di Borwita
Sebagai bagian dari keluarga besar Borwita Citra Prima, semangat tersebut juga hadir dalam rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini.
Di lingkungan pusat, perayaan kemerdekaan diisi dengan berbagai aktivitas yang membawa semangat kompetisi sekaligus kebersamaan.
Ada turnamen badminton berkain, yang menghadirkan tantangan tersendiri karena peserta harus beradaptasi dengan cara bermain yang tidak biasa.

Ada pula ping pong, yang menguji fokus dan koordinasi peserta.

Kemudian hadir Beauty Under Pressure, sebuah kompetisi yang membawa unsur kreativitas dan keberanian untuk tampil dalam situasi yang penuh tantangan.

Tidak berhenti di sana, peserta juga diajak berkreasi melalui lomba menghias tumpeng.

Sekilas, setiap lomba memiliki karakter yang berbeda.
Namun jika dilihat lebih jauh, semuanya memiliki benang merah yang sama:
people coming together.
Ada kerja sama.
Ada kreativitas.
Ada sportivitas.
Ada keberanian untuk mencoba.
Dan tentu saja, ada banyak momen untuk saling mendukung.
Yang menarik, semangat tersebut tidak hanya hadir di pusat.
Berbagai cabang Borwita juga turut merayakan kemerdekaan melalui rangkaian lomba dan aktivitas yang tidak kalah seru.
Setiap cabang membawa bentuk perayaan yang sesuai dengan karakter dan suasana masing masing, tetapi tetap berada dalam satu semangat yang sama: merayakan kemerdekaan bersama sebagai satu keluarga besar Borwita.
Dari Kompetisi Menjadi Connection
Ada perspektif menarik yang bisa kita lihat dari berbagai aktivitas tersebut.
Dalam pekerjaan sehari hari, kompetisi sering kali dikaitkan dengan pencapaian target.
Namun dalam perayaan 17 Agustus, kompetisi memiliki fungsi yang berbeda.
Kompetisi menjadi medium untuk connection.
Orang bermain bersama.
Orang tertawa bersama.
Orang saling mendukung.
Orang mengenal sisi lain dari rekan kerjanya.
Dan ketika orang mengenal satu sama lain lebih baik, ruang untuk membangun kolaborasi juga semakin terbuka.
Gallup dalam kajiannya mengenai high performing teams menempatkan collaboration, inclusion, belonging, meaningful relationships, recognition, dan ongoing development sebagai bagian penting dari pengalaman tim yang kuat.
Artinya, membangun organisasi yang kuat tidak hanya berbicara mengenai bagaimana pekerjaan diselesaikan.
Tetapi juga tentang bagaimana people di dalamnya membangun hubungan untuk menyelesaikan pekerjaan bersama.
Merayakan Kemerdekaan, Merawat Kebersamaan
Pada akhirnya, perayaan 17 Agustus di Borwita bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Bukan pula tentang siapa yang paling cepat, paling kreatif, atau paling unggul dalam sebuah perlombaan.
Yang lebih penting adalah pengalaman yang tercipta di sepanjang prosesnya.
Karena seperti halnya semangat kemerdekaan yang terus dirawat dari generasi ke generasi, sebuah budaya organisasi juga tidak dibangun dalam satu hari.
Ia tumbuh dari kebiasaan.
Dari cara people saling menghargai.
Dari bagaimana kolaborasi dibangun.
Dari keberanian untuk berpartisipasi.
Dan dari pengalaman bersama yang membuat setiap orang merasa menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
Bagi Borwita, sebagai Distributor FMCG Indonesia yang memiliki jaringan dan people yang tersebar di berbagai wilayah, membangun kesatuan bukan berarti membuat setiap cabang menjadi sama.
Justru, keberagaman aktivitas di pusat dan berbagai cabang menunjukkan bahwa setiap bagian memiliki karakter masing masing.
Yang menyatukan semuanya adalah semangatnya.
Semangat untuk bergerak bersama.
Semangat untuk saling mendukung.
Semangat untuk terus bertumbuh sebagai satu keluarga besar.
Karena kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus.
Kemerdekaan juga menjadi pengingat bahwa sesuatu yang besar selalu membutuhkan banyak orang untuk menjaganya, merawatnya, dan terus membangunnya bersama.
Dan di Borwita, semangat tersebut menemukan bentuknya melalui people yang tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga tumbuh, berkolaborasi, dan merayakan perjalanan bersama.



