Ketika Self Love Tidak Lagi Sekadar Tentang Hari Ini
Self love sering diartikan sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Banyak orang mengasosiasikannya dengan istirahat yang cukup, membeli sesuatu yang disukai, atau mengambil waktu untuk diri sendiri. Namun dalam perspektif yang lebih luas, self love juga berarti menjaga masa depan diri sendiri agar tetap aman secara finansial.
Menurut laporan OECD – Financial Literacy Framework, literasi finansial merupakan kemampuan untuk memahami konsep keuangan dan membuat keputusan yang efektif dalam mengelola uang untuk mencapai kesejahteraan jangka panjang.
Sayangnya, tingkat literasi finansial masih menjadi tantangan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di sekitar 49,68% pada tahun 2022. Artinya, masih banyak individu yang belum memahami bagaimana mengelola keuangan dan investasi dengan baik.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa memahami investasi bukan lagi sekadar pilihan tambahan, tetapi sebuah kebutuhan.
Mengapa Investasi Penting dalam Perencanaan Hidup
Investasi adalah proses menempatkan sejumlah dana pada instrumen tertentu dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa depan. Namun secara konsep, investasi bukan hanya soal mencari profit.
Investasi adalah tentang membangun stabilitas finansial dan menjaga daya beli terhadap inflasi.
Menurut World Bank, inflasi secara konsisten menggerus nilai uang dari waktu ke waktu, sehingga individu perlu mengelola aset secara produktif agar nilai kekayaan tidak berkurang.
Tanpa strategi investasi yang tepat, uang yang disimpan dalam bentuk tabungan saja bisa kehilangan nilai riilnya dalam jangka panjang.
Itulah mengapa memahami investasi sejak dini menjadi langkah penting untuk menciptakan ketahanan finansial.
Konsep Penting dalam Dunia Investasi
Agar seseorang dapat berinvestasi secara rasional, terdapat beberapa konsep fundamental yang perlu dipahami.
1. Time Value of Money
Konsep ini menjelaskan bahwa nilai uang saat ini lebih berharga dibandingkan nilai uang di masa depan, karena uang yang dimiliki hari ini dapat diinvestasikan dan menghasilkan keuntungan. Pemahaman tentang konsep ini membantu individu membuat keputusan finansial yang lebih strategis.
2. Risk Appetite
Setiap individu memiliki tingkat toleransi risiko yang berbeda dalam berinvestasi. Dalam dunia keuangan, hal ini dikenal sebagai risk appetite.
Secara umum, investor dapat dikategorikan menjadi:
Konservatif
Mengutamakan keamanan dana dengan risiko rendah.
Moderat
Mencari keseimbangan antara risiko dan potensi keuntungan.
Agresif
Bersedia mengambil risiko lebih tinggi untuk potensi imbal hasil yang lebih besar.
Menurut Morningstar, memahami profil risiko merupakan langkah awal sebelum menentukan instrumen investasi yang sesuai.
Tanpa memahami profil risiko, seseorang bisa mengambil keputusan investasi yang tidak sesuai dengan kondisi finansial maupun tujuan hidupnya.
3. Diversifikasi Investasi
Diversifikasi adalah strategi untuk menyebar investasi ke beberapa instrumen berbeda guna mengurangi risiko kerugian.
Konsep ini telah lama dikenal dalam manajemen investasi modern dan dijelaskan dalam berbagai literatur keuangan, termasuk referensi dari Harvard Business Review.
Dengan diversifikasi yang tepat, investor tidak bergantung pada satu sumber keuntungan saja.
Literasi Finansial Sebagai Fondasi Keputusan Rasional
Di tengah kompleksitas pilihan investasi saat ini, mulai dari emas, saham, reksa dana, hingga instrumen lainnya, literasi finansial menjadi fondasi penting agar individu tidak terjebak pada keputusan emosional atau tren sesaat.
Kemampuan memahami instrumen investasi, risiko, serta tujuan finansial pribadi akan membantu seseorang membangun perencanaan masa depan yang lebih matang dan sistematis.
Karena pada akhirnya, investasi bukan sekadar tentang angka.
Investasi adalah tentang keputusan hidup jangka panjang.
Mendorong Literasi Finansial Melalui Public Training
Kesadaran akan pentingnya literasi finansial inilah yang mendorong berbagai organisasi untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih terbuka dan aplikatif bagi masyarakat maupun karyawan.
Sebagai National FMCG Distributor di Indonesia, Borwita memahami bahwa operational excellence tidak hanya dibangun dari sistem bisnis yang kuat, tetapi juga dari individu yang memiliki pola pikir finansial yang sehat dan terencana.
Melalui inisiatif pengembangan karyawan, Borwita menyelenggarakan Public Training bertema “Cerdas Berinvestasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik”.
Kegiatan ini menghadirkan Dzulfiqar Kharisma, CFP®, Co-Founder Dana Rakca Financial Planner Club, yang membahas berbagai konsep penting dalam dunia investasi, antara lain:
Pemahaman dasar investasi
Konsep time value of money
Simulasi perhitungan investasi
Pemilihan instrumen investasi sesuai profil risiko
Sesi ini tidak hanya memperkenalkan instrumen investasi seperti emas, perak, atau alternatif lainnya, tetapi juga membantu peserta memahami cara berpikir finansial yang lebih sistematis dan rasional.
Antusiasme terlihat dari ratusan karyawan Borwita yang mengikuti sesi ini melalui Zoom Meeting dan aktif dalam diskusi serta tanya jawab sepanjang acara berlangsung.

#GrowatBorwita: Membangun Growth Ecosystem bagi Talenta
Bagi Borwita, pengembangan karyawan bukan sekadar program pelatihan formal. Lebih dari itu, Borwita berkomitmen membangun growth ecosystem yang mendorong setiap individu untuk berkembang, baik secara profesional maupun personal.
Melalui berbagai program pembelajaran, Borwita ingin memastikan bahwa setiap talenta memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan kapasitas diri, termasuk dalam hal literasi finansial.
Karena pada akhirnya, perusahaan yang kuat dibangun oleh individu yang mampu berpikir jangka panjang.
Dan perjalanan menuju masa depan yang lebih baik sering kali dimulai dari satu langkah sederhana:
memahami bagaimana mengelola dan menginvestasikan nilai yang kita miliki hari ini.



