Pernah merasa sudah menjelaskan sesuatu dengan sangat jelas, tetapi rekan kerja justru menangkap pesan yang berbeda? Atau pernah bertemu seseorang yang begitu mudah diajak berbicara, sementara berkomunikasi dengan orang lain terasa membutuhkan usaha lebih?
Situasi seperti ini cukup umum terjadi di lingkungan kerja. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menyampaikan informasi, mengambil keputusan, merespons situasi, hingga membangun hubungan dengan orang lain.
Perbedaan tersebut membuat komunikasi tidak selalu berjalan sesuai harapan. Pesan yang terasa jelas bagi satu orang belum tentu mudah dipahami oleh orang lain.
Padahal, komunikasi merupakan bagian penting dalam membangun kolaborasi, menyelaraskan pekerjaan, dan menciptakan hubungan profesional yang positif.
Lantas, bagaimana cara memahami perbedaan gaya komunikasi dan menyesuaikan pendekatan agar pesan dapat tersampaikan dengan lebih efektif?
Mengapa Komunikasi Efektif Penting di Lingkungan Kerja?
Komunikasi bukan sekadar proses menyampaikan informasi dari satu orang kepada orang lain. Di lingkungan kerja, komunikasi juga berperan dalam membangun pemahaman bersama, mengoordinasikan aktivitas, dan menjaga hubungan antarindividu maupun tim.
Dalam kajian Communication in Organizations yang diterbitkan oleh Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, Joann Keyton menjelaskan bahwa komunikasi organisasi mencakup berbagai perspektif, mulai dari interaksi individu hingga komunikasi dalam kelompok dan organisasi secara keseluruhan.
Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi memiliki peran yang luas dalam kehidupan profesional, termasuk dalam bagaimana seseorang memahami informasi, berinteraksi dengan rekan kerja, dan menjalankan tanggung jawabnya.
Pelajari lebih lanjut tentang komunikasi organisasi melalui Annual Reviews.
Salah satu tantangan dalam komunikasi di tempat kerja adalah perbedaan cara setiap individu memproses informasi.
Sebagai contoh, seseorang mungkin lebih nyaman menerima informasi secara singkat, langsung, dan berorientasi pada hasil. Sementara itu, orang lain mungkin membutuhkan penjelasan yang lebih runtut, waktu untuk memahami informasi, atau kesempatan untuk berdiskusi terlebih dahulu.
Ketika perbedaan tersebut tidak dipahami, komunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman, ketidaknyamanan, bahkan memengaruhi proses kerja.
Sebaliknya, memahami kebutuhan komunikasi orang lain dapat membantu kita menyampaikan pesan dengan lebih tepat.
Komunikasi Bukan Hanya tentang Berbicara, tetapi Juga Mendengarkan
Komunikasi yang efektif membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan pesan sekaligus memahami perspektif orang lain.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior berjudul The Power of Listening at Work membahas pentingnya mendengarkan dalam konteks pekerjaan.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan memiliki peran dalam membangun pemahaman dan interaksi yang lebih baik di lingkungan profesional.
The Power of Listening at Work – Annual Reviews.
Dengan demikian, komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada seberapa jelas seseorang berbicara, tetapi juga pada kemampuannya memahami kebutuhan, respons, dan cara orang lain menerima informasi.
Komunikasi yang baik bukan hanya tentang apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana kita memahami orang lain.
Talk to Anyone: Memahami Perbedaan Gaya Komunikasi
Salah satu pendekatan untuk memahami perbedaan komunikasi adalah melalui model gaya perilaku yang membantu mengenali kecenderungan seseorang dalam berinteraksi.
Model DISC, misalnya, menggunakan empat dimensi perilaku, yaitu Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness.
Model ini dapat membantu memberikan bahasa untuk membahas perbedaan dalam cara seseorang menghadapi tantangan, memengaruhi orang lain, menentukan tempo kerja, dan merespons aturan atau prosedur.
Namun, penting untuk dipahami bahwa gaya komunikasi bukanlah label yang menentukan keseluruhan kepribadian seseorang. Setiap individu dapat menunjukkan kombinasi kecenderungan yang berbeda, bergantung pada situasi dan kebutuhan pekerjaan.
Understanding the DISC Model – Everything DiSC.
Dalam materi Talk to Anyone: Know Your Communication Color, pendekatan ini diperkenalkan melalui empat Communication Colors, yaitu Red, Yellow, Green, dan Blue.
Setiap warna menggambarkan kecenderungan komunikasi yang berbeda, mulai dari fokus pada hasil, interaksi, stabilitas, hingga logika dan struktur.
Memahami keempat gaya ini dapat membantu kita mengenali bahwa setiap orang memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda.
1. Red: Power & Results
Gaya komunikasi Red cenderung berorientasi pada hasil, ketegasan, dan kecepatan dalam mengambil keputusan.
Individu dengan kecenderungan ini biasanya menyukai komunikasi yang langsung, jelas, dan efisien. Mereka ingin mengetahui apa yang perlu dilakukan, hasil yang diharapkan, serta keputusan yang dibutuhkan.
Dalam materi training, Red digambarkan memiliki dorongan dan fokus pada hasil yang tinggi, tetapi cenderung memiliki kesabaran lebih rendah terhadap penjelasan yang terlalu panjang.
Cara berkomunikasi dengan Red:
- Sampaikan informasi secara langsung dan jelas.
- Letakkan hasil atau inti pesan di bagian awal.
- Berikan opsi dan rekomendasi yang konkret.
- Jelaskan tindakan yang dibutuhkan serta tenggat waktunya.
- Hindari basa-basi yang terlalu panjang dan detail proses yang tidak relevan.
Contoh komunikasi:
“Hasilnya sudah ada. Ada dua opsi, saya sarankan B. Butuh keputusanmu sebelum jam 3.”
Pendekatan ini membantu pesan tersampaikan secara ringkas, sekaligus memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan.
2. Yellow: Fun & Connection
Yellow memiliki kecenderungan komunikasi yang lebih ekspresif, antusias, dan berorientasi pada interaksi.
Gaya ini menyukai suasana komunikasi yang hangat, kesempatan untuk bertukar ide, serta percakapan yang memberikan ruang untuk terhubung dengan orang lain.
Dalam materi training, Yellow digambarkan memiliki energi, kreativitas, dan optimisme yang tinggi. Namun, pembicaraan terkadang dapat berkembang ke berbagai arah sehingga fokus pada detail atau tujuan awal perlu diperhatikan.
Cara berkomunikasi dengan Yellow:
- Mulai percakapan dengan sapaan yang hangat.
- Tunjukkan antusiasme dan respons positif.
- Berikan kesempatan untuk berbagi ide.
- Bangun interaksi sebelum masuk ke pembahasan teknis.
- Hindari komunikasi yang terlalu kaku atau langsung tanpa konteks.
Contoh komunikasi:
“Hai! Aku punya ide seru buat promo bulan depan. Boleh aku ceritain sebentar?”
Dengan pendekatan yang lebih interaktif, komunikasi dapat terasa lebih nyaman dan membuka ruang untuk berdiskusi.
3. Green: Peace & Stability
Green memiliki kecenderungan komunikasi yang tenang, suportif, dan berorientasi pada keharmonisan.
Gaya ini biasanya menghargai hubungan yang stabil, komunikasi yang tidak terburu-buru, serta kesempatan untuk memahami situasi sebelum mengambil keputusan.
Dalam materi training, Green digambarkan memiliki kesabaran dan keandalan yang tinggi. Mereka juga cenderung memperhatikan kondisi orang lain dan menjaga keharmonisan tim.
Cara berkomunikasi dengan Green:
- Gunakan nada bicara yang tenang.
- Berikan waktu untuk memahami informasi.
- Jelaskan perubahan rencana sejak awal.
- Dengarkan respons dan pertimbangkan kebutuhan mereka.
- Hindari tekanan berlebihan untuk mengambil keputusan secara mendadak.
Contoh komunikasi:
“Ada perubahan jadwal minggu depan. Aku kabarin dari sekarang supaya kamu punya waktu menyesuaikan.”
Pendekatan ini membantu menciptakan komunikasi yang lebih suportif sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk mempersiapkan diri.
4. Blue: Logic & Structure
Blue memiliki kecenderungan komunikasi yang berorientasi pada logika, akurasi, dan struktur.
Gaya ini menghargai informasi yang jelas, data yang dapat diperiksa, serta penjelasan yang disusun secara sistematis.
Dalam materi training, Blue digambarkan memiliki perhatian terhadap detail dan perencanaan yang tinggi. Mereka cenderung ingin memahami dasar informasi sebelum mengambil keputusan.
Cara berkomunikasi dengan Blue:
- Sampaikan informasi secara runtut.
- Gunakan data dan fakta yang relevan.
- Jelaskan sumber informasi serta dasar perhitungannya.
- Berikan waktu untuk memeriksa informasi.
- Hindari penyampaian yang terlalu emosional atau melompat-lompat.
Contoh komunikasi:
“Ini data penjualan per cabang beserta cara hitungnya. Silakan dicek dulu sebelum kita putuskan.”
Dengan memberikan informasi yang terstruktur, komunikasi dapat membantu membangun pemahaman yang lebih jelas dan mendukung proses pengambilan keputusan.
Bagaimana Menyesuaikan Gaya Komunikasi dengan Orang Lain?
Memahami empat Communication Colors merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menerapkannya dalam interaksi sehari-hari.
Sebab, komunikasi yang efektif tidak berarti kita harus mengubah kepribadian atau cara berbicara secara keseluruhan.
Sebaliknya, kita dapat menyesuaikan pendekatan komunikasi berdasarkan kebutuhan orang yang sedang diajak berbicara.
Berikut tiga langkah yang dapat diterapkan.
1. Observe: Amati Cara Orang Lain Berkomunikasi
Perhatikan bagaimana seseorang menyampaikan pesan, memilih kata, merespons informasi, dan menentukan keputusan.
Apakah mereka lebih menyukai informasi yang langsung pada inti? Apakah mereka membutuhkan ruang untuk berdiskusi? Atau justru lebih nyaman jika informasi disampaikan secara terstruktur?
Mengamati pola komunikasi dapat membantu kita memahami pendekatan yang lebih sesuai.
Namun, hindari langsung memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan satu percakapan. Perhatikan konteks dan perilakunya terlebih dahulu.
2. Adjust: Sesuaikan Cara Kita Menyampaikan Pesan
Setelah memahami kebutuhan komunikasi orang lain, sesuaikan pendekatan tanpa mengubah inti pesan.
Jika seseorang membutuhkan informasi yang ringkas, sampaikan poin utama terlebih dahulu.
Jika seseorang membutuhkan interaksi, berikan ruang untuk berdiskusi.
Jika seseorang membutuhkan waktu untuk memahami informasi, jangan terburu-buru meminta keputusan.
Sementara itu, jika seseorang membutuhkan data, pastikan informasi yang diberikan lengkap dan dapat diperiksa.
Penyesuaian sederhana ini dapat membantu komunikasi terasa lebih relevan dan mudah dipahami.
3. Check: Pastikan Pesan Sudah Dipahami
Komunikasi tidak berhenti ketika pesan selesai disampaikan.
Pastikan informasi yang diterima sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan.
Kita dapat melakukan hal sederhana seperti bertanya:
“Apakah informasi ini sudah cukup jelas?”
“Jadi, yang kita sepakati adalah seperti ini, ya?”
“Apakah ada bagian yang perlu aku jelaskan kembali?”
Langkah ini membantu mengurangi potensi kesalahpahaman dan memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk menyamakan pemahaman.
Observe, Adjust, Check menjadi pendekatan sederhana untuk membangun komunikasi yang lebih adaptif.
Bukan orang lain yang harus selalu menyesuaikan diri dengan kita. Terkadang, kita juga perlu menyesuaikan cara berkomunikasi agar pesan dapat diterima dengan lebih baik.
Sharing is Caring Borwita: Talk to Anyone – Know Your Communication Color
Memahami gaya komunikasi merupakan salah satu keterampilan yang dapat membantu membangun hubungan kerja yang lebih positif.
Untuk mendukung pengembangan kemampuan tersebut, Borwita menghadirkan kegiatan Public Training – Sharing is Caring: Talk to Anyone – Know Your Communication Color sebagai bagian dari Personal Development Series.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 15 Oktober 2026, secara online melalui Zoom, dengan menghadirkan Haudia Salwa El Laili, Talent Acquisition & Employer Branding Specialist, sebagai pemateri.
Melalui sesi ini, Borwita Learners diajak untuk mengenali empat gaya komunikasi yang berbeda, memahami kebutuhan masing-masing gaya saat menerima informasi, serta mempelajari cara menyesuaikan pendekatan komunikasi agar pesan dapat tersampaikan dengan lebih efektif.

Mengenali Communication Color dan Kebutuhan Setiap Gaya
Dalam sesi training, peserta diajak memahami karakteristik Red, Yellow, Green, dan Blue melalui contoh komunikasi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari di lingkungan kerja.
Pembelajaran tidak hanya berfokus pada mengenali karakteristik setiap warna, tetapi juga memahami bagaimana perbedaan gaya komunikasi dapat memengaruhi cara seseorang menerima pesan.
Peserta mempelajari pendekatan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing warna, mulai dari menyampaikan informasi secara langsung, membangun interaksi yang hangat, memberikan waktu untuk memahami pesan, hingga menyampaikan data secara terstruktur.
Dengan memahami kebutuhan tersebut, peserta diharapkan dapat lebih mudah menyesuaikan pendekatan komunikasi saat berinteraksi dengan rekan kerja.
Belajar Melalui Situasi Komunikasi di Tempat Kerja
Salah satu bagian menarik dalam sesi ini adalah aktivitas interaktif untuk mengenali Communication Color melalui contoh pesan yang sering ditemukan dalam pekerjaan.
Peserta diajak membaca pesan dari berbagai situasi, kemudian mengidentifikasi kecenderungan gaya komunikasi berdasarkan pilihan kata, nada, dan cara penyampaian informasi.
Contohnya, pesan dari rekan Sales Cabang yang mengajak tim berdiskusi tentang ide gathering dapat menunjukkan kecenderungan Yellow melalui sapaan yang antusias, ide yang kreatif, dan ajakan untuk berinteraksi.
Sementara itu, pesan dari rekan Finance yang meminta pengecekan angka, sumber data, dan cara perhitungan menunjukkan kecenderungan Blue melalui perhatian terhadap detail dan kebutuhan akan informasi yang akurat.
Melalui aktivitas tersebut, peserta tidak hanya mengenali perbedaan gaya komunikasi, tetapi juga mempelajari cara memberikan respons yang lebih sesuai.
Pembelajaran ini membantu peserta melihat bahwa satu pesan dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda, bergantung pada kebutuhan komunikasi penerimanya.
Membangun Komunikasi yang Lebih Adaptif
Pada akhir sesi, peserta diajak memahami bahwa setiap orang memiliki cara komunikasi yang unik.
Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang perlu dianggap sebagai hambatan, melainkan kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih baik.
Dengan mengamati cara orang lain berkomunikasi, menyesuaikan pendekatan, dan memastikan pesan dipahami, kita dapat menciptakan interaksi yang lebih efektif.
Melalui kegiatan Sharing is Caring, Borwita terus mendorong pengembangan kemampuan interpersonal yang dapat mendukung kolaborasi, komunikasi, dan hubungan kerja yang lebih positif.
Komunikasi yang Lebih Baik Dimulai dari Memahami Orang Lain
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menyampaikan dan menerima informasi.
Ada yang lebih nyaman dengan komunikasi langsung, ada yang membutuhkan interaksi, ada yang menghargai ketenangan, dan ada pula yang mengutamakan data serta struktur.
Memahami perbedaan tersebut membantu kita melihat bahwa komunikasi efektif bukan hanya tentang menyampaikan pesan dengan baik, tetapi juga tentang memahami bagaimana orang lain menerima dan memproses informasi.
Melalui pendekatan Observe, Adjust, Check, kita dapat mulai membangun komunikasi yang lebih adaptif dalam berbagai situasi kerja.
Karena pada akhirnya, mereka bukan orang yang aneh atau sulit diajak berkomunikasi. Mereka mungkin hanya memiliki cara komunikasi yang berbeda.
Dan ketika kita mulai memahami perbedaan tersebut, kita dapat membangun hubungan kerja yang lebih baik, menciptakan kolaborasi yang lebih positif, serta menyampaikan pesan dengan lebih efektif.
Melalui berbagai program pengembangan karyawan, Borwita terus mendukung Borwita Learners untuk belajar, berkembang, dan membangun kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Karena komunikasi yang baik bukan hanya tentang berbicara dengan siapa saja, tetapi juga tentang memahami bagaimana terhubung dengan setiap orang.

